Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Negara China Mengatakan Taiwan Tak Memiliki Hal Bergabung Dengan PBB

Jakarta -  China kembali menyatakan Taiwan tidak punya hak bergabung dengan PBB, sehari setelah Amerika Serikat menyatakan dukungannya untuk partisipasi Taiwan di PBB. Hal ini dilontarkan China setelah pejabat Taiwan berbicara dengan pejabat AS terkait keinginan Taiwan memiliki peran di PBB. Taiwan mewakili China di PBB sampai 25 Oktober 1971, ketika terpilih sebagai perwakilan negara yang mendukung Republik Rakyat China , yang memenangkan perang saudara pada tahun 1949 dan memaksa pemerintah republik melarikan diri ke Taiwan. Sejak itu, Taipei secara teratur mengupayakan peningkatan partisipasi di PBB dan badan PBB lainnya. Pada Rabu, sebagai tanggapan atas dukungan AS untuk upaya Taipei, juru bicara Kantor Urusan Taiwan di Beijing, Ma Xiaoguang mengatakan Taiwan "tidak memiliki hak untuk bergabung dengan PBB". "PBB adalah organisasi pemerintah internasional yang terdiri dari negara-negara berdaulat, Taiwan adalah bagian dari China," jelasnya kepada wartawan, dikut...

Pemerintah Arab Saudi Berikan Suntikan Booster Vaksin Covid-19 Kepada Warganya yang Berusia 18 Tahun Keatas

Riyadh -  Arab Saudi pada Rabu menyerukan warganya untuk mendaftar suntikan penguat (booster) vaksin Covid-19 atau dosis ketiga, jika mereka berusia 18 tahun ke atas, menurut Kementerian Kesehatan. "Sekarang, memungkinkan untuk mendaftar dosis penguat vaksin Covid-19 untuk kelompok usia (18) dan lebih, setelah (6) bulan berlalu sejak mendapatkan dosis kedua, dengan mendaftar janji temu melalui aplikasi 'Sehaty' dan 'Tawakkalna'," jelas Kementerian Kesehatan Arab Saudi di Twitter, dilansir Al Arabiya , Kamis (21/10). "Kami menganjurkan mereka yang memiliki risiko kesehatan untuk segera dan mengambil dosis ketiga untuk memperkuat imunitas mereka," jelasnya. Arab Saudi mulai memperlonggar pembatasan Covid-19 awal pekan ini, mengizinkan perkumpulan dan mencabut kewajiban masker bagi mereka yang telah divaksinasi dua dosis. Pemakaian masker di ruang-ruang terbuka tidak lagi diwajibkan bagi orang yang telah divaksinasi penuh, walaupun warga harus tetap mem...

Badan Eksekutif Mahasiswa Tanggerang Raya Mengecam Aksi Aparat Kepolisian Banting Seorang Demonstran Mahasiswa

Tanggerang -  Himpunan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tangerang Raya menuntut kepolisian bertindak tegas terhadap petugas yang telah membanting mahasiswa bernama Muhamad Faris Amrullah, saat melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Tangerang, Rabu (13/10). Ketua BEM STIE Putra Nusa Perdana Indonesia, Ahmad Saipul menegaskan, pihaknya sangat menyayangkan dan mengecam aksi polisi yang telah bertindak kasar dengan membanting demonstran. "Itu rekan kami dari HIMATA (Himpunan Mahasiswa Tangerang), kami mengecam dan sangat sayangkan tindakan petugas dengan membanting rekan kami dan itu sudah di luar SOP kepolisian," kata Faris saat dikonfirmasi, Rabu (13/10). Dia menuturkan, aksi penyampaian pendapat oleh para mahasiswa Tangerang Raya itu merupakan aksi damai. "Ini aksi damai, dan kami tidak merusak fasilitas umum. Kami hanya ingin direspons secara baik oleh pemerintah. Namun yang kami dapatkan respons dari kepolisian seperti ini," ucapnya. Dia juga mengancam ak...

Banyak Warga Garut yang Terpapar Pengaruh Radikal NII yang Tersebar Dibeberapa Kecamatan

Garut -  Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Garut Kota, Aceng Amirudin mengungkapkan bahwa warga Garut yang terpapar paham radikal Negara Islam Indonesia (NII) bukan hanya dari Kelurahan Sukamentri saja. Ada juga warga dari kelurahan lainnya hingga kecamatan lainnya yang ada di Garut. Berdasarkan information yang dimilikinya, Amirudin menyebut bahwa warga yang terpapar paham NII ada juga dari Kelurahan Regol dan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota. "Bahkan ada di (Kecamatan) Cibatu dan Limbangan juga ada," sebutnya, Kamis (7/10). Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Garut, Wahyudijaya mengatakan bahwa masuknya puluhan warga yang didominasi anak-anak ke NII terjadi karena beberapa faktor. Diantara faktor-faktor itu adalah pengetahuan agama yang minim hingga persoalan ekonomi. "Akhirnya mereka mencari jati diri. Kebetulan ada orang yang memberikan kenyamanan. Karena dia pemahamannya kurang, seolah olah yang ditawarkannya itu benar. Namun hari i...